KISAH NYATA
Tepatnya hari Minggu tanggal 7 Februari 2010. Sore itu rencananya aku mau keluar ama Azka buat beli susu, belanja kebutuhan sehari-hari dan ke rumah teman buat ngejalanin bisnis kecil-kecilan. Karena papah lagi pelatihan di Palembang, sumber pendanaan berkurang untuk sementara hehehe. Jadilah aku mampir dulu di ATM Mandiri dekat lapangan kota.
Perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan satu arah menuju toko Bintang langgananku buat beli susu Azka. Sekilas aku meliha disisi jalan yang berlawanan ada seorang ibu-ibu yang membawa karung sangat besar (gedenya kurang lebih sama ama karung beras 4 biji dijadikan satu) sambil jalan terpincang-pincang. Dua orang anak, laki-laki dan perempuan yang saya taksir sekita umur 3 dan 4 tahun dengan setia mengikutinya. Mereka semua berjalan lemas. Saat aku udah melewatinya sekilas aku melihat ada sesuatu menggantung di ibu itu, seperti bungkusan kecil namun terkesan agak lumayan berat membebani lehernya. Apa itu bayi ya? Batinku.
Tetap saja aku mengendarai motor mengikuti arus lalu lintas. Saat melewati belokan pertama, rasa keingintahuannku mulai tumbuh. Bener gak sih ibu tadi bawa karung besar sambil gendong bayi? Sementara banyak orang pasrah dan menyerah dengan nasib trus meminta-minta dengan ngandelin anak, tapi ibu itu terus berjuang mempertahankan harga dirinya untuk bisa bertahan hidup. Berhenti di pinggir jalan dan mengecek di dompet apakah ada uang yang lebih kecil dari lembaran yang aku ambil di ATM tadi. Ternyata ada. Langsunglah aku cari jalan kembali untuk menemui ibu itu. Masya Allah, sungguh pemandangan yang sangat memilukan. Saat aku menghampirinya tidak jauh dari tempat aku melihatnya pertama kali, sang ibu tampak mengibaskan kain panjang yang penuh dengan (maaf) kotoran bayi. Loh, dimana bayinya? Ternyata bayinya ada di trotoar tanpa alas. Sambil ngasih apa yang sudah aku siapkan untuk ibu itu aku bertanya, “ya Allah bu, kenapa bayinya ditaruh di trotoar, setidaknya kasih alas bu, nanti sakit”. Ibu itu bilang sudah biasa begitu di dalam kehidupan mereka, memang trotorlah tempat tidur mereka. Bayi dengan kulit terbakar yang tinggal membungkus tulang dan mengenakan baju seadanya tanpa celana itu tergolek lemas. Perutnya kempes sekali dan kakinya kecil. Ya Allah, sekecil itu dia sudah merasakan tidur di trotoar. Aku hanya bisa menangis melihat semua itu, sungguh, aku menangis di pinggir jalan.
Teringat akan tujuanku yang ingin membeli susu untuk anakku akupun meneruskan perjalan. Sepanjang perjalanan aku terus kepikiran keluarga itu. Betapa bodohnya aku hanya memberi sedikit kepada ibu itu, padahal sebenarnya bebannya berat. Hatiku gak tenang. Aku terus pacu motorku melewati toko Bintang yang ternyata sudah tutup sambil berdoa dalam hati “ya Allah ijinkan aku untuk bertemu ibu itu lagi, ijinkan aku membantunya walau sedikit, ampuni aku ya Allah jika aku tidak terlalu perduli dengan hambamu yang lain”. Aku pacu motor sebisa aku, namun tetap hati-hati karena dibelakang aku bonceng Azka. Kutelurusi ulang jalanan tadi, dan ternyata ibu itu sudah tidak ada di tempatnya. Namun aku yakin sekali kalau Allah mendengan doaku. Kusapu semua kawasan itu dengan mataku. Dan alhamdulillah di kejauhan kulihat sosoknya. Nekat melawan arus lalu lintas kusamperin dia tepat di depan pos polisi.
“Ibu dan anak-anak tunggu di sini sebentar ya, saya mau belikan makanan tapi saya mau isi bensin dulu ya, soalnya bensin motor saya habis”, ibu itu hanya menggangguk. “Ibu tinggal di mana?”, tanyaku. “Saya tinggal dimana-mana bu, ya di trotoar, ya depan toko, dimana saja”, jawab ibu itu. Saya tinggalkan ibu itu menuju tempat pengisian bahan bakar. Nasi uduk, ayam, tahu dan sayur kupilihkan untuk makan keluaga itu. Segera aku antar makanan itu dan kusuruh mereka makan. Perjalanan dilanjutkan, rasanya gak adil dong sang ibu dan kedua anaknya makan kenyang tapi bayinya yang ternyata udah berumur 6 bulan tetep kelaperan. Di mini market itu aku membeli semua yang aku rasa perlu, susu bayi, bubur bayi, dot, pampers, sabun mandi bayi, sabun mandi dewasa, minyak kayu putih, obat luka dan balsem.
Saat akukembali ketempat ibu tadi, kedua anaknya menghampiriku sambil tersenyum ceria “tadi makanannya udah dimakan loh, tapi gak dihabisin, disimpan buat ntar lagi”. Senang rasanya melihat senyum ceria mereka, padahal yang aku lakukan hanyalah memberi mereka nasi bungkus. Aku menyerahkan semua belanjaanku. Memang sepertinya banyak penjelasanku mengenai barang-barang yang kubelikan itu yang tidak dimengerti ibunya. Akupun tidak berharap ibu itu bisa mengerti dengan semua yang aku katakan. Aku hanya berpesan agar anaknya terutama bayinya dimandikan, diolesin minyak kayu putih, dikasih susu dan bubur karena usianya udah 6 bulan dan sepertinya ASI ibunya tidak mencukupi kebutuhannya. Aku minta dia bertanya sama tukang warung cara membuat susu dan bubur bayinya.
Ya Allah terimakasih. Aku telah diberi kesempatan untuk menebus kelalaianku dalam membantu sesama. Satu hal yang aku suka dari ibu, di sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata ‘kasihani kami’ atau bercerita sambil menangis betapa menderitanya mereka. Serasa syukur yang aku rasakan dan ucapkan selama ini masih kurang. Ampuni aku ya Allah. Semoga keluarga itu dalam lindunganNYa. Amin.
Sekarang mari kita renungkan, masih pantaskan untuk kita mengeluh? Sementara Allah memberikan kita kesempatan yg luas untuk kita mengais rezeki yg halal?
0 komentar:
Posting Komentar